Senin, 08 Juni 2015

Sibuk


Sekali-kali ingin menjadi yang paling tidak peduli
Menjadi yang paling tuli
Acuh dengan lingkungan sekitarnya
Tutup mata hanya melihat dunianya

Ingin sendiri
Di tengah sepi
Jangan!
Jangan ada yang menghampiri!

Terpikir untuk sibuk dengan urusannya
Urusan yang membahagiakan
juga memanjakan baginya

Boleh aku minta waktu itu?

Tapi,

Apa urusan menyendiri itu yang paling membahagiakan buatmu?

Atau bahagiamu memang sibuk pikir ini urus itu?

Minggu, 24 Mei 2015

Untuk.

Saya gatau sih, kamu nantinya membaca ini atau tidak. Iya, buat apa mampir disini. Ga penting. Apalagi di tengah kesibukan kamu yang daridulu juga saya sudah maklum. Saya juga bingung kenapa ya akhirnya nulis ini. Cuma yang jelas, saya


rindu.


Sehabis melakukan kegiatan rutinan yang saya lakukan, berselancar di dunia maya, intinya. Blog kamu selalu jadi destinasi perselancaran saya ini. Seakan mendengar cerita yang kamu alami dan apa yang kamu rasakan. Itu cukup buat saya.

Saya membaca salah satu postingan kamu, ada yang tertulis, teman sebangku yang satu tahun selalu bersama sama pun kadang dengan mudah saya lepas begitu saja. Boleh jujur? Saya sedih membacanya. Tapi saya sadar, saya juga tidak berusaha menjaga kamu. Maaf, untuk yang ini.

Sedih, bahwa teorimu tentag pertemanan yang hanya dikarenakan situasi dan kondisi, ternyata benar terjadi. Sedih, bahwa karena terpisah koridor, entah kita seperti berada di duni yang berbeda. Saya kangen kalian, kangen kita bertiga. Kangen dengan segala obrolan kita yang gajelas. Kangen ketawanya kita yang sama-sama bikin semua orang nengok. Kangen, walaupun selalu saya yang dibully dan ngerasa yang paling bodoh di antara dua orang yang otaknya luar biasa kaya kalian.

Semoga, ga baca ya. Ini bikin giung, takut sakit gigi. Eh tapi kalau sakit ke gigi, saya siap mengobati kok, lima tahun lagi ya.

Sukses dengan urusannya masing-masing. Seenganya, semoga kita masih bisa saling menyapa. Semoga setiap cita-cita dan mimpi yang pernah kita bagi itu terwujud.

Semangat dan sukses. Jangan lupa makan, nanti makin kering kerontang.



Jumat, 03 April 2015

"Katanya Ibu"

 "Mamaaaa"
"Iya umiiii"
"Haaaa sumiii"
"Halo mama!"
"Ibunya DKM"




Iya, kadang saya sering denger panggilan-panggilan seperti itu. Sering dianggap seperti itu. Sering kalau bertemu, tiba-tiba dipeluk sekian rupa. Dapet laporan si ini begini begitu. Disapa dengan ramahnya.


Terus saya suka sadar, rasanya berat ya. Saya belum memberi sebegitu besar seperti "ibu" lainnya. Belum sepeka itu perasaanya. Kadang, saya masih besar egonya. Suka nanya sama diri sendiri "mana ada ibu yang kabur-kaburan kaya gini" Hahaha ga kebayang. Kok jadi lucu.


Mungkin untuk tugas administratif nya saya masih mengerjakan. Walaupun sering telat dan ditagih-tagih kaya diteror. Maklum ya, deadliner. Tapi untuk tugas "yang-seperti-lainnya" saya rasa belum mampu.


Saya sering mikir "kalau yang seharusnya membuat nyaman tapi merasa tidak nyaman, harus apa?" Iya. Saya harus apa? Ternyata masalahnya ada di saya. Saya bahkan gak membangun pondasi yang kuat buat diri saya sendiri. Payah.


Tapi, satu hal yang pasti saya seneng banget kenal kalian semua. Sapa sana-sini. Denger cerita kalian. Jawab pertanyaan macem-macemnya kalian. Kadang menjadi sandaran. Saya amat berbahagia. Alhamdulillah sangat bersyukur. Lihat keramaian kalian kalau kumpul, lihat narsisnya kalian, atau keju-kejunya, post di media sosial kalian. Saya gatau lagi harus mengucap apa ada di lingkaran yang sangat besar ini. Doain ya, saya mau terus belajar, ingetin terus ya.