Kehidupan ini adalah sebuah perjalanan. Dan setiap perjalanan a!kan bermuara pada satu hal, pulang.
Entah pulang dalam definisi apapun itu. Pulang ke rumahnya kah, atau pulang kembali pada dirinya, pada fitrahnya.
Untuk setiap perjalanan yang dilalui, dengan matahari yang terbit tiap harinya. Disadari tau tidak, bahkan diperhatikam atau tidak. Ia kembali. Kembali bersinar. Seperti janjinya setiap hari. Walau ada kabut mendung diatasnya.
Seperti hari yang dilalui, entah itu baik atau buruk. Kenangan dan kisah di masa lalu. Walaupun kabut mendung diatasnya, perlukah disesali apa yang terjadi.
Hanya, hanya, hanya dengan memeluknya erat. Berdamai. Menerima.
Ia akan memanggil dengan seruanNya. Memanggil untuk pulang.
***
IYA BARU SELESAI BACA PULANGNYA TERE LIYE SETELAH BERABAD-ABAD LALU DIBELI. HUHUHUHU.
Jadi ceritanya, bulan-bulan yang lalu, kakak bilang
"Novelnya Tere Liye ada yang baru ya, Sum?"
"OIYAH?"
"Iya tadi kalau gasalah judulnya Pulang gitu liat di kereta"
Dengan semangat 45, besoknya pulang sekolah ke toko buku. Ga ada. Jumatnya lebih lengang ke toko buku lainnya!!. Ga ada. Akhir pekan kesana lagi, ga ada. Jadilah saya sedih-sedih gajelas. Terus Umi bilang
"Ini temen umi ada yang jual online,mau gak?"
"MAULAAAAH!!"
Iya akhirnya beli online. Dan ga lama setelah itu ke ya sebutlah Gramedia, ada. Benar-benar.
Setelah sampe, ga langsung baca. Karena sungguh kejam ulangan dan tugas itu. Yasudahlah.
Dan baru nyelesain hari ini. Sumpah nyesel kenapa baru baca!!!
Tulisan di atas bukan kutipannya kok. Itu terinspirasi dari Novelnya, bab 21. Favorit. Memeluk Erat.
Ah maaf kalau berlebihan. Seleranya memang yang seperti ini. Umi aja sampe ikutan baca novel Tere Liye semuanya :)))))))))))))))))
HAHAHA ini bukan resensi maaf. Baca, baca, resapi.
Selasa, 15 Desember 2015
Kamis, 10 Desember 2015
Meragu
Lagi-lagi berhenti melangkah. Diam, mengambil jeda panjang. Entah harus menuju kemana. Kanan atau kiri, berhenti di persimpangan. Kenapa masih meragu? Apa yang diragukan?
Lagi-lagi berpikir. Tentang sebuah keputusan besarkah? Tentang menjatuhkan pada sebuah pilihan.
Lagi-lagi saya meragu. Bisik sana dan sini tak berpengaruh apapun. Membuat bising. Pusing.
Namun lagi-lagi bertanya pula, kenapa harus meragu? Kemudian ada yang berbisik
Atau kamu takut?
Sabtu, 10 Oktober 2015
Teruntuk
01.20
Assalamualaikum warrahmatullahi wa barakatuh
(Katanya, jangan disingkat kan? :) )
Teruntuk, teman, sahabat, adik, keluarga.
Hai! Apa kabar?
Assalamualaikum warrahmatullahi wa barakatuh
(Katanya, jangan disingkat kan? :) )
Teruntuk, teman, sahabat, adik, keluarga.
Hai! Apa kabar?
Tahunnya sudah berganti ya?
Akhirnya juga akan ada yang diganti. Ada yang sudah mendekati gerbang, katanya. Memberikan tongkat estafet yang harus terus dijalankan. Memberikan sebuah kepercayaan, amanah yang besar. Hai, dik! Sudah siap?
Satu tahun yang lalu, jumlah mereka ada lima puluh. Adik yang luar biasa hebatnya. Akhirnya bertambah lagi menjadi 62. Lingkarannya makin besar ya?
Mereka yang mau belajar dan senang bertanya. Walaupun kalau ditanya balik, jawabnya hanya senyum-senyum. Yang selalu menyempatkan diri untuk hadir di setiap kegiatan. Kadang-kadang malu, mengingat jumlah mereka lebih banyak dari kami.
Terimakasih untuk satu tahun lalu yang sangat hebat. Terimakasih untuk setiap kontribusi, setiap kerja keras yang kalian berikan.Terima kasih untuk berjalan bersama-sama kami. Terima kasih telah menulis nama di formulir yang telah kami berikan. Memilih berjuang bersama-sama.
Sekarang giliran kalian ya? Mengubah setiap kata kerja di- menjadi me- . Mungkin akan lelah awalnya. Harus keluar dari zona nyaman yang telah kalian tinggali.Semuanya akan terbalas ketika melihat senyum-senyum dari adik kalian yang baru. Sama halnya seperti kami, yang melihat kalian. Sekarang sudah menjadi kakak ya?
Mohon maaf kalau setahun ke belakang, kami memberi contoh yang tidak baik. Masih banyak kekurangan. Kurang menyapa. Kurang tersenyum. Kurang merangkul. Kurang mendekatkan diri. Maaf kalau kami belum menjalankan peran kami sebaik-baiknya.
Jadilah kakak yang lebih hebat nantinya, ya!
Kali ini, hanya bisa mendoakan dari kejauhan. Melihat kalian dengan penghuni baru yang jumlahnya dua kali lipat dari kalian. Lebih banyak daripada kita, ya, jumlahnya? :) Selamat menjadi kakak!
Titip rumah ini beserta seluruh isinya. Tolong dijaga dengan baik-baik. Kami percaya, selalu percaya. Selamat datang, DKM Transformasi.
Langganan:
Postingan (Atom)



