Jumat, 20 Mei 2016

Graduation?


Dua orang yang selalu menemani di saat-saat tersulit saya. Yang kiri selalu rela dibawelin buat ngajarin, padahal anaknya suka marah-marah kalau gak ngerti. Tapi sabarnya luar biasa. Yang kanan selalu nemenin sampe nyediain segala keperluan yang saya butuhin. Rela di rumah full selama UN demi nemenin anaknya ini. Gatau gimana bilangnya, terima kasih Umi dan Ayah. Sumayyah cinta! 


Manusia kurang gizi. Baru temenan tiga tahun rasaya udah kaya berabad-abad. Ngobrolin A-Z selalu nyambung. Keras kepala anaknya tapi selalu ga tegaan. Fon, semoga makara hijau memang jodohnya. Selamat mewujudkan mimpi-mimpi kita, Gapapa ya terpisah 206 km? Sumi ga kemana-mana kan? Sumi ga pernah ninggalin kan? Yang namanya selalu terselip di akhir sujud. Selamat bertemu di rumah sakit nanti! 


Teman sebangku dua tahun yang perlu dipertanyakan kewarasan otaknya. Sarkasme dan sinismenya berhasil membagun saya jadi lebih baik. The best travelling partner. Mau kemana kita selanjutnya? Terima kasih untuk selalu memberi apa-apa yang mungkin tidak kamu sadari. Maaf kalau belum bisa menjadi sebaik-baiknya seorang teman. 


Maaf tidak bersama kalian di gedung yang sama. Selamat mewujudkan mimpi-mimpi lainnya. Kuylah Jatinagor for love, live, and earth. Lah wardah itu sih. 



Salah satu ketakutan terbesar saya adalah sulit diterima dalam suatu lingkungan. Mungkin ada yang menganggap saya terlalu keras atau first impression  yang sedemikian rupa. Terima kasih telah menerima Sumi, guys! Yang mengisi hari-hari dua tahun ini. DooOoooooOOO gabisa cizi. Takut maskaranya luntur. Yang di atas bukan martabak atau nasi goreng, tapi spesialnya luar biasa. Juara! 


(minus Uce & Hanif)
Mereka tahu betul bagaimana ketidakanggunan saya dan bar-barnya. 
"WOY LAPORAN DEPARTEMEN MASING-MASING"
"KADEP-KADEPKU"
"JARKOM KE DEPARTEMEN MASING-MASING"
"WOY"
"HEH"
"DIEM GAK"
"SERIUS DONG"
Bohong deh. Saya kan kalem dan lemah lembut. Ya kan? Terimakash telah bekerja sama setahun ke belakang. Maaf kalau saya bayak salahnya, apalagi ke para ketua.Ya emang gini sekretaris tidak tahu diuntung. 




Pengingat-pengingat dalam kebaikan. Lingkaran yang selalu ditunggu setiap minggunya. Teman belajar yang paling-paling sedunia. Engga tahu lagi mau ngomong apa. Sayang banget... HUHUHU. Pesannya ya tetep, jangan baper guys! Aku sih ya tujuh tahun lagi abis koass. Apa enam? EH TUHKAN!! Ditunggu kabar baiknya sayang-sayangku. Semoga selalu diberkahi Allah. Doaku yang terbaik untuk semua!



UCEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! a.k.a makhluk paling cuek a.k.a partner kerja sumi a.k.a calon ibu dokterku. Insya Allah nanti sebelahan kan ya? Aamiinnnn allahumma aamiin. Kutunggu! 


Ya Allah, jaga mereka-mereka yang di atas sana ya. Sumi titip mereka semua! :)

Senin, 16 Mei 2016

Yaelah, Sum!

"Umi kayanya harus sewa pembantu lagi deh"

"Kenapa emang?"

"Kan nanti Sumayyah pergi"

Ya. Celetukan Salman yang bikin kesel dan sedih.

HAHAHAHAHAHA keselnya sih lebih banyak:"""""""""

Sekitar satu tahun lalu, Mbak emang resign dari rumah --resign coy. Alhasil rumah emang ga ada asisten rumah tangga lagi. Masing-masing punya tugas masing-masing. Misalnya saya; ngepel, nyapu, ngejemur, lipet baju. Yha gitu.

Akhir-akhir ini juga emang sering ada di rumah. Jadilah saya emang suka disuruh beberes dengan rayuan Umi.

"Kamu tuh kalau nyapu bersih banget deeh"

"Duuuh ngepelnya awet satu minggu ini sih"

"Umi ga sebersih ayah sama kamu nih kalau beberes"

Y h a a j a .

Katanya saya ini mewarisi jiwa beberesnya ayah :"))))))))

Ya idaman kan?

Idaman asisten rumah tangga. Sempet kepikiran daftar go-clean apa? HAHAHA GAK DING.

Hue. Ngelantur.

Celetukan Salman juga asli bikin sedih banget. Emang... Saya mau pergi kemana? Cuma 206 kilo meter kan dari rumah? Cuma tiga jam perjalanan naik mobil kan?

Lagi-lagi takut karena hal ginian. Si payah.

"Kenapa nangis ih?"

"Nanti gimana.... Jauh..... "
(9 Mei 2016 , 15.00)

Sum, mari belajar mendewasa. Hikmahnya adalah banyak pelajaran yang bisa kamu ambil. Tentang keberanian dan kemandirian. Juga tentang memaknai arti pulang sesungguhnya.

Si cengeng. Dua tahun lagi kepala dua.

Rabu, 11 Mei 2016

Belum Akhirnya.

Hm.

Banyak pertimbangan setelah memilih yang satu itu. Teriakan pencundang menggema di labirin-labirin pendengaran. Bisik kanan-kiri yang membuat semakin pusing. Banyak bentrokan antara mimpi, harapan dari orang sekitar saya, dan masih banyak lagi.

Akhirnya satu malam, berserah pada satu-satunya tempat bergantung.  Saya ga peduli apa lagi kata orang. Biar. Saya sudah memilih.

Disamping itu masih berjuang mengejar apa-apa yang telah digantungkan pada langit. Masih mempertahankan apa yang menjadi doa di setiap sujud.

Rupanya, ini jawabannya. Yang menurutNya baik. Bukan lagi menimbang dengan takaran manusia. Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah.

Kalau ada yang nanya, apa saya menyesal?

Saya bakal jawab, tidak. Tidak lagi terbesit sama sekali tentang pengandaian. Cuma bisa bersyukur masih diberi kesempatan. Bersyukur bisa membahagiakan.

Kalau ada yang nanya, masih mau di Depok?

Saya bakal jawab, tidak. Alhamdulillah sudah jalannya. Alhamdulillah. Sangat-sangat bersyukur dengan apa yang Allah berikan.

Kalau masih ada yang tanya, kenapa engga jadi dokter?

Ini sih minta dirontokkin semua giginya. Gak deh.

"Dan aku diperintahkan agar menjadi orang yang pertama-tama berserah diri" (QS 39: 12)

Mari berserah, bukan berpasrah! :)

Belum ada apa-apanya, Sum. Semoga dikuatkan selalu!

InsyaAllah, your future pedodontist. 🎉