Jumat, 04 Agustus 2017

Sebatang Lidi dari Sapu Lidi

Menuju lima tahun bersama orang ini. Katanya sih satu tahun lagi and it will be forever. Masa?

 
Walaupun saya bukan lagi tempat kalau-ada-apa-apa-nya dia lagi, semoga tetap jadi yang dicari.
 

Gimana setahun LDR sama aku?! Apa sama yang di fakultas sebelah? HEHEHEHEHEHE. 

Walaupun udah banyak yang beda, tapi semoga kita ga membangun jurang pemisah itu lagi ya. Kaya kehidupan lantai dua kita.


HAHAHAHAHAHA MALES AMAT SIH W NULIS KAYA GENEEEEEEEEEEEH.


Orang ini kemaren baru bertambah angka usianya.

  
Dari jaman ngucapin di twitter, IG, line, tumblr, semua udah!


Tapi semuanya telat! WAKAKAKAKAKA. Tadinya mau ngucapin malem kemaren, tapi terlalu lelah bzz hehehehehe.
 

 Jadi, teruntuk fona yang sebentar lagi 20 tahun,selamat menjalani tahun terakhir kepala satunya dan semoga umur nya berkah.


Semoga kebaikan selalu menyertai Fona dan selalu dilindungi sama Allah.

  Semoga dimudahkan segala urusannya, ujiannya, belajarnya, semuanya!

 Semoga kita jadi rekan sejawat yang sukses di ranahnya masing-masing!

 Semoga keanehan kita semakin berkurang y y y.


Dan semoga menjadi anggun seperti Sumi. AAAMIIINNN!!!!!!!!!!





Rabu, 02 Agustus 2017

Yang Pernah Dilupakan



Saya selalu suka menjadi Sumayyah kecil. Bukan hanya saja soal fisik, sih. Sumayyah kecil yang saya kenal adalah anak yang mudah sekali termotivasi. Dulu saya pernah nonton 100 mimpinya Pembuat Jejak. Video itu viral banget dan selalu ada di training motivasi. Dan Sumayyah kecil pun dengan sotaunya ikut-ikutan.

Saya nulis di selembar kertas. Saya bahkan mengingat saya menulis dengan spidol pink. Mimpi-mimpi yang terkesan tidak masuk akal dan sok tahu. Kalau tidak salah saya waktu itu masih kelas 6 atau 5 (atau 4 ya?!) SD.


Entah kemudian saya melupakan tulisan-tulisan itu. Selembar kertas yang entah disimpan dimana. Saya kemudian masuk SMP. Kemudian ritual beres-beres yang dilakukan di setiap semester menemukan saya dengan kertas-kertas itu. Saya lupa tepatnya kelas berapa, kalau tidak salah di penghujung SMP.

Tapi betapa terkejutnya bahwa ada beberapa nomor yang ternyata perlu saya coret.


 
Jadi ketua OSIS

How a surprise. Saya mikir apasih nulis kaya gitu? Saya juga lupa pernah nulis itu. Ada beberapa lainnya yang saya coret. Saya merasa terharu, sedih, entah apa namanya. Sekaligus senang juga. Kemudian saya kembali menambahkan mimpi-mimpi itu. Kemudian siklus berulang kembali. Saya melupakannya lagi.

Liburan semester alias tingkat yang super panjang jadi momentum buat beresin lemari. Akhirnya saya bener-bener bongkar lemari. Dan saya kembali nemuin kertas-kertas mimpi itu lagi. 

 
Pergi ke Bali

 
Masuk kuliah lewat undangan


Lagi-lagi saya merasa tertampar. Hah? Buat saya pergi ke Bali itu adalah sesuatu yang wow. Karena keluarga saya memang jalan liburan gitu hehe. Saya inget betul sebelum naik kelas 12, saya pergi ke Bali sama seorang teman. Itupun karena menang lomba selfie dan kita dapet tiket garuda pulang-pergi. Aneh sih, tapi...

Ada banyak mimpi lainnya yang dicoret juga. Ada juga yang akhirnya saya silang dan tulis penggantinya. Masuk FK misalnya. HEHEHE. Tapi Allah takdirkan saya menjadi calon sejawatnya mereka.

Mimpi-mimpi itu menyadarkan bahwa bahkan ketika saya melupakannya Allah membersamai memeluk saya dengan mimpi-mimpi itu. Walaupun banyak juga yang tidak tercapai karena masanya sudah lewat, saya tahu Allah ganti dengan yang sebaik-baiknya.

Allah mendengar setiap apa yang diharapkan. Saya merasa bersalah juga sih ga mewujudkan mimpi itu dengan penuh ikhtiar. Ga bisa berhenti bersyukur bahwa Allah mendengar mimpi-mimpi itu. Mimpi-mimpi yang apasih banget Allah jadikan dengan caraNya yang paling baik.

Huhuhuhu mau menangis. Menjadi Sumayyah kecil, menjadi seorang pemimpi adalah satu hal yang ingin saya abadikan hingga semuanya berakhir di dunia. Saya akui menjadi seiring bertambahnya usia, saya menjadi semakin realistis. Atau takut? Rasanya mau menulis target-target saja sudah merasa gamang tidak dapat dicapai.

Sum, bahkan Alllah saja tidak pernah mengecilkan mimpi-mimpi kamu.

Sudah siap jadi pemimpi lagi, kan?




Rabu, 28 Juni 2017

Surat Tidak Bertuan

teruntuk kamu yang (mungkin) tidak membaca ini,

Biarkan aku mengucap salam terlebih dulu,
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,

Boleh juga bertanya kabarmu?

Nyatanya aku terlalu pengecut untuk menuliskan ini padamu, maka biar ia tak bertuan, menjadi tanda tanya untuk siapa gerangan.

Bahkan aku terlalu pencundang untuk mengerti apa yang terjadi. Aku tidak ingin mengetahuinya. Benar-benar tidak ingin memahaminya.


Aku berharap ini yang terakhir. Suratku yang terakhir. Tidak seperti surat 4 tahun lalu, nyatanya masih ada surat 2 tahun lalu. Tidak juga seperti 2 tahun lalu, nyatanya ada surat ini.

Aku hanya ingin, meminta maaf. Begitu sulit menuliskannya padamu. Untuk segala kata yang menyakiti dan perbuatan yang melukai. Untuk segala janji yang tak kunjung ditepati. Untuk segala kesalahan yang tidak aku sadari.

Aku hanya ingin meminta maaf. Untuk segala hal yang telah terlewati.

Bahkan ada di tempat yang sama tak juga mempertemukan kita. Karena memang sudah seharusnya menutup buku sejak dahulu. Ah ya, sudah.

Biar ini jadi pelajaran untuk kita. Untuk lebih berlapang dan berserah.

Selamat hidup bahagia,



------------------------------------------------------------------------------



HAHAHAHAHAHAA GA DENGGGG!!!!! FIKTIF BELAKA.

Dasar Sumi gabut!


Liburan telah tiba, mau nyampah dulu yang banyak!