Saya gatau sih, kamu nantinya membaca ini atau tidak. Iya, buat apa mampir disini. Ga penting. Apalagi di tengah kesibukan kamu yang daridulu juga saya sudah maklum. Saya juga bingung kenapa ya akhirnya nulis ini. Cuma yang jelas, saya
rindu.
Sehabis melakukan kegiatan rutinan yang saya lakukan, berselancar di dunia maya, intinya. Blog kamu selalu jadi destinasi perselancaran saya ini. Seakan mendengar cerita yang kamu alami dan apa yang kamu rasakan. Itu cukup buat saya.
Saya membaca salah satu postingan kamu, ada yang tertulis, teman sebangku yang satu tahun selalu bersama sama pun kadang dengan mudah saya lepas begitu saja. Boleh jujur? Saya sedih membacanya. Tapi saya sadar, saya juga tidak berusaha menjaga kamu. Maaf, untuk yang ini.
Sedih, bahwa teorimu tentag pertemanan yang hanya dikarenakan situasi dan kondisi, ternyata benar terjadi. Sedih, bahwa karena terpisah koridor, entah kita seperti berada di duni yang berbeda. Saya kangen kalian, kangen kita bertiga. Kangen dengan segala obrolan kita yang gajelas. Kangen ketawanya kita yang sama-sama bikin semua orang nengok. Kangen, walaupun selalu saya yang dibully dan ngerasa yang paling bodoh di antara dua orang yang otaknya luar biasa kaya kalian.
Semoga, ga baca ya. Ini bikin giung, takut sakit gigi. Eh tapi kalau sakit ke gigi, saya siap mengobati kok, lima tahun lagi ya.
Sukses dengan urusannya masing-masing. Seenganya, semoga kita masih bisa saling menyapa. Semoga setiap cita-cita dan mimpi yang pernah kita bagi itu terwujud.
Semangat dan sukses. Jangan lupa makan, nanti makin kering kerontang.
Minggu, 24 Mei 2015
Jumat, 03 April 2015
"Katanya Ibu"
"Mamaaaa"
"Iya umiiii"
"Haaaa sumiii"
"Halo mama!"
"Ibunya DKM"
Iya, kadang saya sering denger panggilan-panggilan seperti itu. Sering dianggap seperti itu. Sering kalau bertemu, tiba-tiba dipeluk sekian rupa. Dapet laporan si ini begini begitu. Disapa dengan ramahnya.
Terus saya suka sadar, rasanya berat ya. Saya belum memberi sebegitu besar seperti "ibu" lainnya. Belum sepeka itu perasaanya. Kadang, saya masih besar egonya. Suka nanya sama diri sendiri "mana ada ibu yang kabur-kaburan kaya gini" Hahaha ga kebayang. Kok jadi lucu.
Mungkin untuk tugas administratif nya saya masih mengerjakan. Walaupun sering telat dan ditagih-tagih kaya diteror. Maklum ya, deadliner. Tapi untuk tugas "yang-seperti-lainnya" saya rasa belum mampu.
Saya sering mikir "kalau yang seharusnya membuat nyaman tapi merasa tidak nyaman, harus apa?" Iya. Saya harus apa? Ternyata masalahnya ada di saya. Saya bahkan gak membangun pondasi yang kuat buat diri saya sendiri. Payah.
Tapi, satu hal yang pasti saya seneng banget kenal kalian semua. Sapa sana-sini. Denger cerita kalian. Jawab pertanyaan macem-macemnya kalian. Kadang menjadi sandaran. Saya amat berbahagia. Alhamdulillah sangat bersyukur. Lihat keramaian kalian kalau kumpul, lihat narsisnya kalian, atau keju-kejunya, post di media sosial kalian. Saya gatau lagi harus mengucap apa ada di lingkaran yang sangat besar ini. Doain ya, saya mau terus belajar, ingetin terus ya.
"Iya umiiii"
"Haaaa sumiii"
"Halo mama!"
"Ibunya DKM"
Iya, kadang saya sering denger panggilan-panggilan seperti itu. Sering dianggap seperti itu. Sering kalau bertemu, tiba-tiba dipeluk sekian rupa. Dapet laporan si ini begini begitu. Disapa dengan ramahnya.
Terus saya suka sadar, rasanya berat ya. Saya belum memberi sebegitu besar seperti "ibu" lainnya. Belum sepeka itu perasaanya. Kadang, saya masih besar egonya. Suka nanya sama diri sendiri "mana ada ibu yang kabur-kaburan kaya gini" Hahaha ga kebayang. Kok jadi lucu.
Mungkin untuk tugas administratif nya saya masih mengerjakan. Walaupun sering telat dan ditagih-tagih kaya diteror. Maklum ya, deadliner. Tapi untuk tugas "yang-seperti-lainnya" saya rasa belum mampu.
Saya sering mikir "kalau yang seharusnya membuat nyaman tapi merasa tidak nyaman, harus apa?" Iya. Saya harus apa? Ternyata masalahnya ada di saya. Saya bahkan gak membangun pondasi yang kuat buat diri saya sendiri. Payah.
Tapi, satu hal yang pasti saya seneng banget kenal kalian semua. Sapa sana-sini. Denger cerita kalian. Jawab pertanyaan macem-macemnya kalian. Kadang menjadi sandaran. Saya amat berbahagia. Alhamdulillah sangat bersyukur. Lihat keramaian kalian kalau kumpul, lihat narsisnya kalian, atau keju-kejunya, post di media sosial kalian. Saya gatau lagi harus mengucap apa ada di lingkaran yang sangat besar ini. Doain ya, saya mau terus belajar, ingetin terus ya.
Sabtu, 14 Maret 2015
Masa Depan
Siapa yang tak pernah membicarakannya? Dua kata yang penuh misteri. Siapa yang tau masa depannya seperti apa? Kelak akan menjadi apa, berada dimana, dengan siapa. Siapa yang tak pernah memimpikannya? Menjadi begini begitu lima atau sepuluh tahun lagi, berada di tempat hebat bersama orang tersayang di sampingnya.
Dulu, dulu, sekali, ketika aku kecil, aku sering mendesakNya. Berdoa di sebelum tidurku "Ya Allah, tunjukan sedikit masa depanku. Aku penasaran" Sungguh, aku seperti itu. Merengek dan merajuk. Berharap punya mesin waktu seperti kartun kesukaan ku. Nihil. Tak kutemukan sedikit pun clue.
Aku lantas tertawa mengingatnya. Kita sendiri yang punya rancangan. Kita sendiri yang menyusun masa depan kita seperti apa. Kita sendiri yang tentukan. Terlepas dari Dia yang lebih tau mana yang terbaik untukmu. Terlepas dari ini melenceng dari yang aku rencanakan! Sekali lagi, Dia yang Maha Mengetahui.
Kita hanya berusaha. Menanam dan merawat dengan sebaik-baiknya. Lantas melibatkanNya dengan doa dan sujud di setiap harinya. Kelak kita yang akan memetik hasil jerih payah, usaha, doa, kita.
Kali ini aku tak akan merajuk lagi. Tak akan memaksa lagi ditunjukan masa depannya. Sumpah! Aku kan yang punya blue print di tanganku? Meski engkau yang mengetahui bangunan jadinya.
Dulu, dulu, sekali, ketika aku kecil, aku sering mendesakNya. Berdoa di sebelum tidurku "Ya Allah, tunjukan sedikit masa depanku. Aku penasaran" Sungguh, aku seperti itu. Merengek dan merajuk. Berharap punya mesin waktu seperti kartun kesukaan ku. Nihil. Tak kutemukan sedikit pun clue.
Aku lantas tertawa mengingatnya. Kita sendiri yang punya rancangan. Kita sendiri yang menyusun masa depan kita seperti apa. Kita sendiri yang tentukan. Terlepas dari Dia yang lebih tau mana yang terbaik untukmu. Terlepas dari ini melenceng dari yang aku rencanakan! Sekali lagi, Dia yang Maha Mengetahui.
Kita hanya berusaha. Menanam dan merawat dengan sebaik-baiknya. Lantas melibatkanNya dengan doa dan sujud di setiap harinya. Kelak kita yang akan memetik hasil jerih payah, usaha, doa, kita.
Kali ini aku tak akan merajuk lagi. Tak akan memaksa lagi ditunjukan masa depannya. Sumpah! Aku kan yang punya blue print di tanganku? Meski engkau yang mengetahui bangunan jadinya.
Langganan:
Postingan (Atom)