Sabtu, 10 Oktober 2015

Teruntuk

01.20

Assalamualaikum warrahmatullahi wa barakatuh
(Katanya, jangan disingkat kan? :) )

Teruntuk, teman, sahabat, adik, keluarga.

Hai! Apa kabar?

Tahunnya sudah berganti ya?

 

Akhirnya juga akan ada yang diganti. Ada yang sudah mendekati gerbang, katanya. Memberikan tongkat estafet yang harus terus dijalankan. Memberikan sebuah kepercayaan, amanah yang besar. Hai, dik! Sudah siap?


Satu tahun yang lalu, jumlah mereka ada lima puluh. Adik yang luar biasa hebatnya. Akhirnya bertambah lagi menjadi 62. Lingkarannya makin besar ya?






  

Mereka yang mau belajar dan senang bertanya. Walaupun kalau ditanya balik, jawabnya hanya senyum-senyum. Yang selalu menyempatkan diri untuk hadir di setiap kegiatan. Kadang-kadang malu, mengingat jumlah mereka lebih banyak dari kami.

  

Terimakasih untuk satu tahun lalu yang sangat hebat. Terimakasih untuk setiap kontribusi, setiap kerja keras yang kalian berikan.Terima kasih untuk berjalan bersama-sama kami. Terima kasih telah menulis nama di formulir yang telah kami berikan. Memilih berjuang bersama-sama.


Sekarang giliran kalian ya?  Mengubah setiap kata kerja di- menjadi me- . Mungkin akan lelah awalnya. Harus keluar dari zona nyaman yang telah kalian tinggali.Semuanya akan terbalas ketika melihat senyum-senyum dari adik kalian yang baru. Sama halnya seperti kami, yang melihat kalian. Sekarang sudah menjadi kakak ya?

 

Mohon maaf kalau setahun ke belakang, kami memberi contoh yang tidak baik. Masih banyak kekurangan. Kurang menyapa. Kurang tersenyum. Kurang merangkul. Kurang mendekatkan diri. Maaf kalau kami belum menjalankan peran kami sebaik-baiknya.

   
Jadilah kakak yang lebih hebat nantinya, ya!
Kali ini, hanya bisa mendoakan dari kejauhan. Melihat kalian dengan penghuni baru yang jumlahnya dua kali lipat dari kalian. Lebih banyak daripada kita, ya, jumlahnya? :) Selamat menjadi kakak!


Titip rumah ini beserta seluruh isinya. Tolong dijaga dengan baik-baik. Kami percaya, selalu percaya. Selamat datang, DKM Transformasi.



Minggu, 09 Agustus 2015

Bingung

Apa bingung akan selalu melanda ketika kaki hendak melangkah ke kehidupan selanjutnya? Setiap tangga yang akan dilewati, kita akan berhenti sejenak. menatap anak tangga di kanan, kiri, depan. Perasaan takut menyergap. Takut kalau-kalau pilihan itu ternyata salah. Atau takut-takut kalau kaki tak sanggup mencapai anak tangga. Dan membuat kita menggelinding di tangga bawah. Ah bagaimana. Mengangkat kaki-pun belum, mengapa ribut-ribut takut begini dan begitu?

Dulu, dulu sekali. Saya tak pernah bingung hendak melanjutkan kaki ke anak tangga yang mana. Semuanya begitu lurus-lurus saja. Dari TK, SD, SMP saya bersekolah di bawah naungan yag sama. Ketika menengah atas, saya sempat mecoba sebuah sekolah. Ternyata memang bukan jodohnya. Toh dengan lapang, saya menerima. Saya mendaftar juga ke sekolah yang sama dengan Abang saya. Nekat memang. meningat saya hanya seorang anak yang berasal dari kabupaten. Dengan NEM yag coba dibandingkan dengan teman-teman pasti saya di bawah rata-rata. Saya juga tidak punya sekolah cadangan saat itu. Rupanya langit tergugah dengan doa-doa yag selalu mengiringi saya. Seperti umi dan ayah. Niat saya dulu hanya ikut-ikutan juga tak dapat dipungkiri. Rupanya Allah ingin membuka mata saya lewat sekolah ini. Saya diajari banyak hal. Niat ikut-ikutan ini juga segera hilang begitu saja, ketika melihat betapa kehidupan yang tercipta di sekolah ini.

Dua tahun sudah. Sekarang sudah menginjak tahun ke-tiga. Katanya sih tahun terakhir dan sebagai tahun pembuktian. Sebagai tahun penentuan kelanjutan. Nah ini. Nah. Saya mulai bingung. Ini bukan terkait kakak, atau keinginan orang tua saya lagi. Ini tentang saya, diri saya, dan masa depan saya.

"Pernah ga sih mikir kita tuh beneran mau ini gak sih?"
"Sering. Terus ujungnya baca-baca alasan yang menguatkan buat disana"
"Jadi makin kuat atau jadi ragu?"
".................."

Saya sendiri juga heran dengan pilihan saya sekarang. Tapi banyak alasan yang terus menguatkan saya untuk ada disana. Coba kita cerita dulu. Sederhana saja, apa cita-cita saya dulu sewaktu kecil? Jadi guru TK. Padahal saya waktu itu masih TK. Mau tau apa alasannya? Karena saya bisa bahagia, setiap hari. Terus saya sadar, toh nantinya juga saya akan menjadi guru dan sekolah pertama bagi hm ya itu. Jadi saya masih bisa mencapai cita-cita saya. Semoga.


Dulu dokter pernah masuk jajaran mimpi saya. Mimpi saya untuk mewujudkan keinganan umi. Tapi saya sadar jiwa saya ga disana. Untungnya abang saya masuk kedokteran! Saya merasa terbebas. Ha. Walaupun sekaprang tidak jauh dari itu. Tapi saya senang membaca setiap artikelnya. Menikmati setiap menonton kasus-kasus walaupun masih agak ngeri.

Ah kan jadi bingung.

Selasa, 28 Juli 2015

Panggilnya Ayah

Sambil menunggu sahur, saya mau bercerita tentang satu sosok,  laki-laki pertama dalam hidup saya.

Biasanya dipanggil ayah. Salah seorang dosen di sebuah institut negeri di Bogor. Mengajar Fisika.  Saya ga berlebihan kalau bilang ayah pintar luar biasa. Meskipun harus nunggu ayah pulang malam, atau bangun pagi-pagi, Ayah selalu membantu mengerjakan pr hitungan saya, atau review ketika ulangan. Walaupun saya bebal banget sama yang namanya fisika. Sering ngomel-ngomel sendiri

"Ngapain sih bola gelinding diitung?"
"Jatuh ya jatuh aja! Repot banget"

Ah ayah....tetep diem aja. Ayah emang orang yang pendiam. Gatau petakilannya saya nurun darimana. Tapi ayah sekalinya ngomong...jleb. Omongannya selalu berbobot. Ya... walaupun sebenernya jarang ngobrol huhuhuhu.Ayah yang tenang dan sangat tabah. ((((Yang ga diturunin ke saya pastinya))))

Ayah yang kadang kalau bercandaan suka garing hahaha. Tapi saya ketawa aja. Yang kalau foto suka cengengesan. Yang sealu menerapkan fisika di kehidupannya.

A: Tau gak kenapa jalannya lambat? Sesuai asas bernoully kalau makin luas permukaan, kecepatannya semakikn kecil. Liat nih kan sekarang dua jalur, malah ga jalan kan!

Maksa sih yah...itu kan fluida...Yaudah saya cuma mangut-mangut sok ngerti. Terus ketawa. Ayah yang kalau makan nasi selalu ngelebarin permukaan nasinya. Gimana ya...jadi ga dikepal atau numpuk gitu. Nanti kalornya cepat berpindah?!

Satu-satunya yang saya berani bersikap manja. Ah saya kan tetap putri kecil ayah. Saya suka gelendotin tangannya kalau jalan. Atau ngerengek-ngerengek minta dibeliin novel atau diajak kemana. Atau ngambek-ngambek minta dianterin ke sekolah karena telat....padahal ayah ke Dermaga. Kasiannya....

Ayah yang punya alarm sholat di kepalanya. Kalau adzan pasti langsung bangun. Yang dulu suka ngeprint ayat terus ditempel di kardus. Terus dihafal. Lebih mudah katanya. Ayah itu yang dibilang laki-laki paling lurus kata umi.

Hari ini bukan hari spesial ayah. Malah hari ini ulang tahun Kakak. Happy birthday, my nurseeee! Tapi kemarin dapet musibah. Saya bener-bener salut sama ayah. Tanggung jawabnya, kesabarannya, tegarnya, optimisnya.

Kalau kriteria saya ketinggian....salahin aja ayah!♥